Nusantaraupdate.co, Tenggarong – Festival Erau Adat Kutai Tahun 2026 resmi diluncurkan oleh Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) bersama Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura. Peluncuran ditandai dengan pemukulan gong oleh Sultan Kutai Kartanegara Ing Martadipura XXI, Sultan Aji Muhammad Arifin, di Pendopo Odah Etam Tenggarong, Kamis (20/8/2026).
Tahun ini, Erau mengusung tema “Raja Menunggal Bersama Rakyat, Raja Menjamu Rakyatnya”, yang mencerminkan hubungan erat antara Kesultanan dan masyarakat Kutai Kartanegara sebagai bagian dari nilai budaya yang diwariskan turun-temurun.
Bupati Kutai Kartanegara, Aulia Rahman Basri, menegaskan bahwa Festival Erau 2026 akan tetap digelar secara penuh meskipun pemerintah daerah sedang menghadapi tantangan fiskal dan kebijakan efisiensi anggaran.
Menurutnya, peluncuran tersebut menjadi penanda dimulainya seluruh rangkaian kegiatan Erau, mulai dari tahap sosialisasi hingga pelaksanaan acara puncak pada September mendatang.
“Kick-off ini menjadi awal seluruh rangkaian Erau. Harapan kami, pelaksanaan Erau tahun ini tetap berjalan secara utuh tanpa ada bagian yang dikurangi,” ujar Aulia.
Ia menilai Erau bukan sekadar agenda budaya tahunan, melainkan identitas masyarakat Kutai yang harus terus dijaga dan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu, pemerintah berkomitmen memastikan seluruh prosesi adat dan kegiatan pendukung tetap terlaksana dengan baik.
Selain mempertahankan nilai-nilai tradisi, Pemkab Kukar juga berharap pelaksanaan Erau tahun ini mampu melibatkan lebih banyak masyarakat melalui berbagai kegiatan pendukung, termasuk olahraga tradisional dan aktivitas budaya lainnya.
“Kami ingin partisipasi masyarakat semakin besar, baik melalui kegiatan budaya maupun olahraga tradisional, tetapi tanpa mengurangi nilai sakral yang menjadi ruh dari Erau itu sendiri,” katanya.
Aulia menegaskan pelestarian budaya tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah atau Kesultanan semata. Menurutnya, seluruh masyarakat memiliki tanggung jawab yang sama untuk menjaga warisan budaya daerah.
“Kalau bukan kita yang melestarikan budaya sendiri, siapa lagi,” tegasnya.
Sementara itu, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kukar yang juga Juru Bicara Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura, Heriansyah, menjelaskan bahwa Erau memiliki makna yang jauh lebih dalam dibanding sekadar perayaan budaya.
Ia menyebut dalam tradisi Erau terdapat filosofi hubungan antara Sultan, kerabat Kesultanan, dan masyarakat yang menggambarkan harmoni dalam kehidupan bermasyarakat.
“Yang dieraukan adalah raja atau sultan, yang mengeraukan adalah kerabat, sedangkan yang merasakan kegembiraannya adalah seluruh rakyat. Jadi Erau ini adalah perayaan bersama antara pemimpin dan masyarakatnya,” jelas Heriansyah.
Menurutnya, nilai-nilai tersebut perlu terus dikenalkan kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman. Salah satu prosesi penting yang sarat makna adalah Beluluh, yang menjadi bagian awal dari rangkaian Erau.
Beluluh, kata Heriansyah, melambangkan pembersihan diri dari energi negatif dan membangkitkan energi positif sebagai bekal dalam menjalankan kehidupan dan kepemimpinan.
“Beluluh mengandung makna meluruhkan hal-hal negatif dan membangun energi positif. Filosofi ini juga menjadi pengingat bagaimana seorang pemimpin menjaga adat, budaya, dan masyarakatnya,” ujarnya.
Pelaksanaan Erau 2026 juga memiliki nilai strategis karena kembali masuk dalam agenda Karisma Event Nusantara (KEN). Status tersebut diyakini akan semakin memperkuat promosi budaya Kutai di tingkat nasional hingga internasional.
Kesultanan dan pemerintah daerah pun berharap pelaksanaan Erau tahun ini dapat menarik lebih banyak wisatawan, termasuk wisatawan mancanegara yang ingin menyaksikan langsung salah satu tradisi budaya tertua di Kalimantan.
Selain mengundang wisatawan, Kesultanan Kutai juga berencana mengundang para sultan dan kerajaan dari berbagai daerah di Nusantara untuk turut hadir dalam rangkaian acara.
Festival Erau Adat Kutai 2026 dijadwalkan berlangsung pada 20 hingga 27 September 2026, sementara pada 28 September 2026 akan dilanjutkan dengan rangkaian peringatan Hari Jadi Kota Tenggarong ke-242.
Dengan tema yang menekankan kebersamaan antara Sultan dan masyarakat, Erau 2026 diharapkan tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga memperkuat rasa persatuan serta kebanggaan masyarakat terhadap warisan budaya Kutai Kartanegara.





