Nusantaraupdate.co – Pemerintah membuka akses bagi puluhan pesawat asing untuk memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Kalimantan. Sebanyak 35 izin penggunaan pesawat berregistrasi asing telah diterbitkan untuk mendukung pemadaman kebakaran dari udara.
Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi mengatakan penanganan karhutla saat ini menjadi salah satu prioritas utama pemerintah. Penggunaan pesawat asing dilakukan karena kebutuhan sarana pemadaman udara belum seluruhnya dapat dipenuhi dari dalam negeri.
“Pada intinya kita akan selalu mendukung apa yang menjadi prioritas. Seperti penanganan kebakaran ini kan menjadi prioritas utama pada saat ini. Dalam jangka pendek ini juga harus segera dipadamkan,” kata Dudy usai Rapat Kerja bersama Komisi V DPR RI di Jakarta, Selasa (1/9/2026).
Menurut Dudy, pengadaan pesawat tersebut dilakukan oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Pesawat-pesawat itu kemudian digunakan untuk membantu operasi pemadaman karhutla di sejumlah wilayah Kalimantan.
Pemerintah melalui Kementerian Perhubungan memberikan izin penerbangan sekaligus dukungan operasional agar armada udara tersebut dapat segera digunakan di wilayah terdampak.
“Kita membutuhkan segala prasarana yang dibutuhkan untuk memadamkan termasuk pesawat-pesawat asing yang kebetulan tidak dimiliki di Indonesia. Jadi, kita datangkan, didatangkan oleh BNPB, kemudian digunakan untuk pemadaman dan kita memberikan izin,” ujar Dudy.
Ia memastikan seluruh izin yang dibutuhkan untuk pengoperasian 35 pesawat asing telah diberikan. Dengan demikian, armada tersebut dapat langsung mendukung proses pemadaman selama kondisi darurat karhutla berlangsung.
Sebagian besar armada yang dikerahkan berupa helikopter. Jenis pesawat tersebut dinilai memiliki kemampuan yang sesuai untuk operasi pemadaman dari udara, terutama di wilayah yang sulit dijangkau oleh tim darat.
“Oh ya pesawat-pesawat tersebut sudah beroperasi untuk menangani karhutla. Itu kan sudah kita berikan izin semua. Tadi kan ada sekitar 35 pesawat,” kata Dudy.
Direktur Jenderal Perhubungan Udara Kementerian Perhubungan Lukman F. Laisa sebelumnya menjelaskan bahwa izin tersebut diberikan kepada 11 pemegang Air Operator Certificate (AOC) yang berasal dari delapan negara.
Armada yang terlibat tercatat mencapai 36 helikopter. Negara asal operator tersebut antara lain Australia, Rusia, Amerika Serikat, Ukraina, Selandia Baru, Laos, Vietnam, dan Kanada.
“Negara asalnya dari Australia, Rusia, Amerika, Ukraina, New Zealand, Laos, Vietnam, dan Kanada,” ujar Lukman saat dikonfirmasi di Jakarta.
Sebanyak 11 pemegang AOC yang terlibat dalam operasi tersebut yakni Ersa Eastern Aviation, Genesa Dirgantara, Falcon Patriot Utama, Pegasus Air Service, Whitesky Aviation, Smart Cakrawala Aviation, Elang Nusantara Air, Intan Angkasa Air Service, Volta Pasifik Aviasi, Dabi Air Nusantara, dan Derazona Air Service.
Kementerian Perhubungan menyatakan dukungan terhadap operasi tersebut tidak hanya dilakukan melalui penerbitan izin. Pemerintah juga memfasilitasi aspek operasional serta memastikan pengawasan terhadap keselamatan penerbangan tetap berjalan selama pesawat asing digunakan untuk penanganan karhutla.
Pelibatan armada asing diharapkan dapat mempercepat penanganan kebakaran, khususnya pada lokasi yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Pemerintah juga terus mengoordinasikan operasi pemadaman bersama BNPB dan berbagai pihak terkait agar titik-titik api dapat segera dikendalikan dan tidak meluas.





