Kemarau Panjang Bikin Rawa Mengering, Buaya Mulai Bermunculan di Tepi Sungai Mahakam

Agustus 20, 2026
Foto: Istimewa

Nusantaraupdate.co, Tenggarong – Kemarau panjang yang melanda Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mulai memberikan dampak terhadap ekosistem perairan. Selain memengaruhi aktivitas masyarakat yang menggantungkan penghasilan dari sektor perikanan, menyusutnya sumber air di kawasan rawa juga membuat sejumlah satwa liar berpindah mencari habitat yang masih menyediakan air.

Salah satu fenomena yang kini menjadi perhatian adalah meningkatnya kemunculan buaya di sejumlah aliran sungai wilayah Kecamatan Muara Muntai. Satwa tersebut dilaporkan terlihat berjemur di tepian sungai, termasuk di kawasan yang menjadi jalur aktivitas masyarakat untuk mencari dan menangkap ikan.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kukar, Muslik, mengatakan kondisi tersebut diduga berkaitan erat dengan semakin mengeringnya rawa akibat musim kemarau yang berlangsung cukup panjang.

Menurutnya, ketika air di kawasan rawa mulai surut dan mengering, buaya kemudian bergerak menuju aliran sungai yang masih memiliki sumber air. Perpindahan tersebut membuat keberadaan buaya semakin mudah terlihat oleh masyarakat.

“Di daerah Muara Muntai, itu banyak ditemui buaya berjemur di pinggir-pinggir sungai. Karena air di rawa-rawa sudah mengering, jadi mereka mencari air. Otomatis mereka ke sungai,” ujar Muslik, Rabu (19/8/2026).

Salah satu titik yang mendapat perhatian adalah Sungai Rebak Rinding. Sungai tersebut merupakan jalur penghubung antara Sungai Mahakam dengan Danau Melintang. Di kawasan itu, masyarakat beberapa kali melaporkan adanya buaya yang terlihat berada di tepian sungai.

Kemunculan satwa predator tersebut menimbulkan kekhawatiran bagi warga yang sehari-hari beraktivitas di perairan. Nelayan maupun masyarakat yang mencari ikan harus lebih berhati-hati karena keberadaan buaya dapat meningkatkan risiko terjadinya konflik antara manusia dan satwa liar.

“Ini membuat masyarakat khawatir untuk mencari ikan atau menangkap ikan. Karena di pinggir-pinggir sungai itu terdapat buaya,” kata Muslik.

Menurut Muslik, kondisi tersebut perlu mendapat perhatian karena aktivitas masyarakat di sekitar sungai tetap berlangsung meskipun kondisi perairan mengalami perubahan akibat kemarau.

Untuk mengantisipasi terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, DKP Kukar telah melakukan koordinasi dengan Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL). Koordinasi tersebut salah satunya dilakukan untuk mengetahui dan memetakan titik-titik yang menjadi lokasi kemunculan buaya.

Pemerintah juga mempertimbangkan pemasangan rambu-rambu peringatan di sejumlah lokasi yang diketahui menjadi habitat maupun jalur kemunculan buaya. Dengan adanya tanda peringatan tersebut, masyarakat diharapkan dapat meningkatkan kewaspadaan ketika melakukan aktivitas di sekitar sungai.

Muslik menegaskan bahwa keberadaan buaya perlu disikapi dengan hati-hati karena satwa tersebut merupakan bagian dari ekosistem dan termasuk satwa yang dilindungi. Karena itu, penanganan tidak semata-mata dilakukan dengan mengusir satwa, tetapi juga dengan meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai keberadaan satwa liar di lingkungan mereka.

Masyarakat yang beraktivitas di sungai juga diimbau untuk memperhatikan kondisi sekitar, terutama ketika berada di lokasi yang telah diketahui menjadi tempat kemunculan buaya. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi potensi konflik sekaligus menjaga keselamatan warga.

Sementara itu, kondisi kemarau panjang juga menjadi perhatian terhadap keberadaan satwa khas Sungai Mahakam, yakni pesut Mahakam. Namun, hingga saat ini belum terdapat laporan mengenai gangguan atau dampak serius kemarau terhadap populasi pesut.

DKP Kukar bersama BPSPL dan sejumlah lembaga swadaya masyarakat masih melakukan pemantauan terhadap keberadaan pesut di sepanjang wilayah perairan.

“Sejauh ini belum ada laporan terkait kondisi pesut akibat kemarau panjang. Pesut ini umumnya berada di sungai, namun pemantauan tetap kami lakukan bersama pihak dan lembaga terkait,” tutup Muslik.

Kemunculan buaya di tepian sungai menjadi salah satu gambaran bagaimana perubahan kondisi lingkungan selama kemarau dapat memengaruhi pola pergerakan satwa. Pemerintah pun perlu terus memperkuat pemantauan sekaligus memberikan informasi kepada masyarakat agar aktivitas di perairan tetap berlangsung dengan memperhatikan keselamatan dan kelestarian satwa.

Bagikan