Nusantaraupdate.co, Tenggarong – Turnamen sepak bola tingkat desa kini tampil dengan nuansa yang lebih profesional. Martadipura Cup III yang digelar di Desa Liang, Kecamatan Kota Bangun, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), menghadirkan teknologi Video Assistant Referee (VAR) pada pertandingan pembuka sebagai inovasi untuk meningkatkan kualitas kompetisi.
Penerapan teknologi yang identik dengan ajang sepak bola profesional tersebut menjadi daya tarik tersendiri dalam rangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-66 Desa Liang. Selain memberikan pengalaman berbeda bagi pemain dan penonton, penggunaan VAR juga diharapkan mampu membantu wasit mengambil keputusan secara lebih akurat dalam situasi krusial.
Kepala Desa Liang, Rodiani, menjelaskan bahwa penggunaan VAR pada laga pembuka masih bersifat uji coba. Perangkat tersebut disewa dari penyedia jasa yang berbasis di Tenggarong setelah adanya penawaran kepada panitia penyelenggara.
“Untuk pertandingan pembukaan kemarin sifatnya masih uji coba. Kami menyewa perangkatnya,” ujar Rodiani saat dikonfirmasi, Selasa (21/7/2026).
Menurutnya, kehadiran VAR memberikan nilai tambah terhadap penyelenggaraan turnamen. Selain meningkatkan kualitas pertandingan, teknologi tersebut juga memberikan pengalaman baru bagi masyarakat yang selama ini hanya menyaksikan VAR di kompetisi nasional maupun internasional.
Meski demikian, Rodiani mengakui penggunaan teknologi tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Untuk satu hari pelaksanaan pada laga pembuka, panitia mengeluarkan anggaran sekitar Rp11 juta. Apabila digunakan sepanjang turnamen hingga partai final, total biaya diperkirakan mencapai Rp80 juta.
Karena itu, panitia masih mempertimbangkan penggunaan VAR pada pertandingan-pertandingan penentuan, khususnya semifinal dan final, dengan melihat kesiapan anggaran serta hasil koordinasi bersama penyedia layanan.
“Kami memang tidak merencanakan sejak awal. Setelah ada penawaran, akhirnya dipakai saat pembukaan. Rencananya nanti juga digunakan lagi pada semifinal dan partai final,” jelasnya.
Di balik penerapan teknologi tersebut, terdapat tim lokal Merah Putih Visual yang dipercaya menangani operasional VAR sekaligus layanan siaran langsung pertandingan melalui platform YouTube.
Daniel, salah seorang kameramen Merah Putih Visual, mengatakan kerja sama dengan panitia dimulai sekitar sepekan sebelum turnamen berlangsung. Tim kemudian melakukan survei lokasi di Kota Bangun untuk mempelajari kondisi lapangan sekaligus menyusun konsep penerapan VAR sesuai kebutuhan penyelenggara.
Ia menilai penggunaan VAR terbukti membantu jalannya pertandingan, terutama ketika wasit membutuhkan tayangan ulang untuk memastikan keputusan penting di lapangan.
“Penggunaan VAR sangat membantu dan efektif, terutama bagi wasit. Kami juga ingin berkontribusi dalam memajukan multimedia dan sepak bola yang ada di Kutai Kartanegara,” katanya.
Daniel mengungkapkan tantangan terbesar selama pelaksanaan bukan berasal dari aspek teknis perangkat, melainkan kondisi lapangan yang panas dan berdebu. Tim harus menyesuaikan posisi kamera, perangkat operasional, serta area kerja agar sistem tetap berjalan optimal.
Menariknya, penerapan VAR dalam turnamen ini tidak dilakukan secara sembarangan. Merah Putih Visual melibatkan personel yang telah memiliki sertifikasi VAR dan berpengalaman bertugas pada kompetisi Liga 1 Indonesia, sehingga standar operasional yang digunakan mendekati pertandingan profesional.
Meski belum ada kepastian mengenai penggunaan VAR pada semifinal dan final, Daniel berharap inovasi tersebut dapat terus diterapkan dalam berbagai ajang olahraga di Kukar.
“Kami berharap bisa terus berlanjut ke berbagai event atau turnamen olahraga lainnya. Kami ingin menunjukkan bahwa dari Kutai Kartanegara juga bisa berkontribusi dalam memajukan olahraga, baik melalui live streaming maupun VAR,” ujarnya.
Martadipura Cup III sendiri diikuti sekitar 56 klub dari berbagai daerah di Kalimantan Timur, di antaranya Kutai Kartanegara, Samarinda, Kutai Timur, dan Kutai Barat. Turnamen ini memperebutkan total hadiah Rp108 juta, dengan rincian juara pertama memperoleh Rp60 juta, juara kedua Rp25 juta, juara ketiga Rp15 juta, dan juara keempat Rp8 juta.
Dengan jumlah peserta yang besar, dukungan teknologi VAR, serta penyiaran langsung melalui platform digital, Martadipura Cup III menjadi salah satu contoh bagaimana kompetisi sepak bola tingkat desa mulai bertransformasi menuju penyelenggaraan yang lebih modern, profesional, dan mampu memberikan pengalaman baru bagi seluruh pencinta sepak bola di Kutai Kartanegara.





