Nusantaraupdate.co, Tenggarong – Tanaman kratom kini mulai menunjukkan perannya sebagai komoditas strategis yang berpotensi menjadi penopang ekonomi baru di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Di tengah kondisi fiskal daerah yang tidak lagi sebesar sebelumnya, kratom hadir sebagai peluang alternatif yang menjanjikan.
Kratom sendiri merupakan tanaman khas yang tumbuh di wilayah Asia Tenggara. Di Indonesia, sebarannya cukup luas, mulai dari Kalimantan, Sumatera hingga Papua. Tanaman ini biasanya tumbuh optimal di daerah dengan kondisi lembap dan panas, terutama di kawasan lahan basah seperti tepian sungai dan danau. Salah satu habitat alaminya dapat ditemukan di sepanjang aliran Sungai Kapuas di Kalimantan Barat.
Di Kalimantan Timur, khususnya Kukar, kratom telah berkembang menjadi komoditas budidaya yang tidak hanya dijual sebagai bahan mentah, tetapi juga diolah menjadi berbagai produk, termasuk bentuk pil herbal. Saat ini, terdapat lebih dari 12 ribu petani kratom yang tersebar di sejumlah wilayah, dengan konsentrasi utama di Kecamatan Kota Bangun, Tabang, serta sebagian di Loa Kulu dan Tenggarong Seberang.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, menegaskan bahwa potensi kratom harus dimanfaatkan secara optimal melalui strategi pengelolaan yang tepat. Menurutnya, komoditas ini sudah terbukti memiliki nilai ekonomi tinggi dan terus berkembang.
Produksi kratom di Kukar saat ini mencapai sekitar 200 hingga 300 ton setiap bulan. Nilai ekonominya semakin meningkat apabila diolah menjadi ekstrak. Di pasar internasional, harga ekstrak kratom bisa mencapai 2.000 hingga 3.000 dolar Amerika Serikat per kilogram, yang nilainya setara dengan satu unit sepeda motor di Indonesia.
Dengan estimasi produksi bersih sekitar 100 ton per tahun, potensi nilai ekonomi yang dapat dihasilkan mencapai ratusan miliar rupiah. Angka tersebut dinilai mampu menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi berkelanjutan bagi daerah.
“Ini peluang besar yang harus kita tangkap bersama. Kratom bisa menjadi komoditas ekspor unggulan Kukar jika dikelola secara maksimal,” ujar Rendi.
Ia juga menyoroti pentingnya dukungan terhadap para petani yang menjadi tulang punggung produksi kratom di daerah tersebut. Dengan jumlah petani yang mencapai ribuan, penguatan kebijakan dinilai penting agar manfaat ekonomi dapat dirasakan secara merata.
“Kita punya lebih dari 12 ribu petani. Ini potensi besar, tinggal bagaimana kita dorong agar nilai tambahnya bisa dinikmati masyarakat,” tambahnya.
Tidak hanya unggul dari sisi produksi, Kukar juga memiliki kelebihan dalam hal hilirisasi. Tenggarong Seberang menjadi satu-satunya wilayah di Kalimantan Timur yang telah memiliki fasilitas pengolahan kratom menjadi ekstrak. Bahkan, fasilitas ini belum dimiliki oleh beberapa daerah penghasil utama lainnya seperti Kalimantan Barat.
Keunggulan ini menjadi modal penting dalam meningkatkan daya saing kratom Kukar di pasar internasional. Permintaan terhadap komoditas ini juga terus meningkat dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Thailand, dan Republik Ceko.
“Kita sudah punya pabrik pengolahan menjadi ekstrak. Ini keunggulan Kukar yang harus terus kita dorong, karena daerah lain belum tentu memilikinya,” tegas Rendi.
Selain itu, produk turunan kratom juga semakin beragam, mulai dari bahan baku kosmetik, industri farmasi, hingga campuran suplemen untuk minuman berenergi.
Melihat potensi besar tersebut, pemerintah daerah berkomitmen untuk terus mendorong pengembangan industri kratom, baik dari sisi hulu hingga hilir. Dukungan terhadap petani dan pelaku usaha menjadi langkah penting agar komoditas ini mampu memberikan nilai tambah yang lebih besar.
Dengan pengelolaan yang tepat dan berkelanjutan, kratom diyakini dapat menjadi salah satu motor penggerak ekonomi baru yang menjanjikan bagi Kutai Kartanegara.





