Dokter UI Sarankan Puasa Syawal untuk Pulihkan Pencernaan Usai Lebaran

Maret 25, 2026
Adaptasi Sistem Pencernaan Usai Lebaran, Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI), Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, SpPD-KGEH., MMB, Sarankan Puasa Syawal. Foto: Ade Nasihudin/Liputan6.com.

Nusantaraupdate.co – Adaptasi sistem pencernaan setelah perayaan Idulfitri menjadi hal penting yang tidak boleh diabaikan. Perubahan pola makan dari kebiasaan puasa selama Ramadan menuju pola makan normal sering kali membuat sistem pencernaan “kaget”, terutama jika langsung mengonsumsi makanan dalam jumlah besar.

Guru Besar Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Ari Fahrial Syam, menyarankan masyarakat untuk melakukan penyesuaian secara bertahap, salah satunya dengan menjalankan puasa Syawal.

“Perlu ada penyesuaian secara bertahap, baik dari sisi jumlah makanan, waktu makan, maupun pola istirahat. Jangan langsung berlebihan karena lambung memiliki keterbatasan dalam menerima asupan,” ujarnya, Selasa (24/3/2026).

Menurutnya, puasa Syawal dapat menjadi cara efektif untuk membantu tubuh bertransisi kembali ke pola makan normal setelah sebulan berpuasa.

“Anjuran puasa Syawal dapat menjadi salah satu cara membantu transisi tubuh menuju pola makan normal,” tambahnya.

Ia menjelaskan bahwa momen Lebaran identik dengan konsumsi makanan tinggi lemak, santan, dan gula. Jika dikonsumsi berlebihan, makanan tersebut dapat memicu gangguan pencernaan seperti perut kembung, begah, hingga nyeri ulu hati.

Karena itu, masyarakat diimbau untuk lebih peka terhadap sinyal tubuh. Jika muncul rasa tidak nyaman seperti mual atau nyeri di perut, sebaiknya segera menghentikan konsumsi makanan.

Selain itu, konsumsi makanan pedas, asam, serta minuman bersoda dan kopi berlebihan juga perlu dibatasi, terutama bagi mereka yang selama Ramadan telah mengurangi jenis asupan tersebut.

Ari juga mengingatkan bahwa kelompok dengan riwayat penyakit seperti gangguan lambung, hipertensi, diabetes, maupun asam urat harus lebih berhati-hati. Pola makan yang tidak terkontrol saat Lebaran berisiko memicu kambuhnya penyakit.

“Selama Ramadan, banyak orang berhasil mengendalikan pola makan dan bahkan menurunkan berat badan. Namun jika tidak dijaga, kondisi tersebut bisa kembali seperti semula dalam waktu singkat,” jelasnya.

Untuk menjaga keseimbangan, masyarakat disarankan memperbanyak konsumsi buah dan sayuran guna membantu mengontrol asupan kalori. Kandungan serat dalam makanan tersebut berperan dalam mengurangi penyerapan gula dan lemak.

Dalam kondisi ringan seperti nyeri ulu hati atau mual, langkah awal yang bisa dilakukan adalah beristirahat, menghindari makanan pemicu, serta mengonsumsi obat penetral asam lambung. Oleh karena itu, menyiapkan obat dasar selama masa libur juga dinilai penting, terutama di daerah dengan akses layanan kesehatan terbatas.

Tak kalah penting, Ari menekankan agar penderita penyakit kronis tetap disiplin dalam mengonsumsi obat. Aktivitas silaturahmi yang padat kerap membuat pasien lalai, yang bisa berdampak pada memburuknya kondisi kesehatan.

“Lebaran adalah momen bahagia, namun kesehatan tetap harus menjadi prioritas. Kuncinya adalah menjaga keseimbangan: boleh menikmati hidangan, tetapi tetap memperhatikan takaran,” tutupnya.

Dengan menjaga pola makan, memperhatikan asupan nutrisi, serta tetap aktif secara fisik, masyarakat diharapkan dapat menjalani masa setelah Lebaran dengan tubuh yang tetap sehat dan bugar.

Bagikan